Pusiiiing.....
Gak seberapa sih, cuman liatnya jadi ikut ketar ketir karna kali ini adek ndiri yang mesti ikut seleksi. sejak terima hasil UASBN, saya pikir ia dapat hasil yang lumayan bagus (yah mungkin karna melihat cara belajarnya yang agak amburadul itu). Bahkan ada nilai 9 di bidang SAINS, duh bersyukur banget..
Dalam hati optimis bakal masuk SMP yang lumayan, meski masih pinggiran (karna sekarang kan rayonnya lebih dibatasi, meski ada 1 pilihan yang boleh lintas rayon). Karena kami memang tinggal di daerah pinggiran, otomatis aj kami jadi milih sekolah yang minggir-minggir.
Duh...ternyata jadi ortu emang musingin. Anak sekolah maunya sekolah negeri, murah (mungkin) jg bagus. Bisa ngebayangin lah kalo di swasta, mau cari sekolah yang bagus, duh..duitnya so pasti buagguuuuzzz deh...
Jaman sudah berubah, banyak godaan buat anak2 sekarang. Ada PS, Mall, Game Player, apapun lah yang jadi racun dunia anak2. Duh...adinda...Tak heran orang tua jadi makin pusing (meski ternyata hari gini di kota besar, pusat kota Surabaya, masih ada juga orang tua yang enggan menyekolahkan anaknya). Rasanya di dunia yang makin tua ini, anak2 jadi cepat tua.
Dua hari setelah pendaftaran dibuka, adek masih masuk pilihan pertama, masuh dalam posisi yang aman. Tapi dua hari kemudian adek sudah bergeser ke pilihan kedua. Ah mungkin ini emang yang terbaik (karna emang ini yang dulu jadi keinginannya). Tapi dua hari kemudia, adek dah bergeser lagi ke pilihan ketiga. Makin pusing aja. Kawatir kalau-kalau adek tidak bisa masuk SMP Negeri.
Saya tidak tahu persisnya jika melihat lebih dalam. Tapi image SMP Negeri sangat melekat kuat di kepala. Selain dengan kualitas yang baik (yah..semoga demikian), juga biaya yang dapat dikatakan murah (saya pikir, paling tidak bila dibandingkan dengan sekolah swasta dengan kualitas sama, tentu sekolah negeri lebih murah).
Berbondong-bondong, berdesak-desakan, orang tua membawa bukti nilai putra-putrinya ke SMP Negeri yang dituju (tapi ternyata ada juga siswa yang berupaya mendaftar sendiri). Berharap dengan nilai di genggaman, putra-putri mereka dapat duduk di bangku kebanggaan bernama Negeri. Jadi ingat negeri yang tercinta. Berpusing-pusing dengan segala macam tetek bengek (yang kadang gak penting sama sekali), mengutak atik kurikulum secara berkala (tapi sering juga belum habis masanya sudah diobrak abrik lagi.
Oh negeriku...entah apa yang bisa kutuntut darimu...Hanya sampai sekarang dalam hati masih bertanya-tanya pada para penguasa, mau dibawa kemana pendidikan kita? Anak-anak bangsa yang sedemikian timpanya. Di saat globalisasi dan gombalisasi telah merambah, masih ada pula anak-anak yang tidak bersekolah. Dan sepertinya telah menjadi fakta, bahwasanya anak-anak yang tidak bersekolah ini makin banyak saja).
Oh...negeri...
Oh pemerintah...
Mau dibawa kemana pendidikan ini?
Jumat, 11 Juli 2008
Minggu, 27 April 2008
Penyuapan atau Peng"kompas"an
Berani menyuap Polisi? Tidak lagi lah. Hanya sepele beberapa puluh ribu, bisa-bisa diancam masuk sel. Aparat yang ini benar-benar serius berupaya memperbaiki citranya di masyarakat sebagai hamba hukum yang taat hukum, termasuk menolak praktek suap demi tegaknya hukum di bumi tercinta ini.
Di koran pun sedang gencar-gencarnya pemberitaan pemberantasan korupsi di kalangan kepolisian. Rasanya malu sendiri kalau mau suap menyuap. Bahkan yang saya baca di beberapa koran, dah ada beberapa orang yang tidur di "kamar khusus". Kalau sudah lihat faktanya seperti itu, sungguh salut saya denan kinerja polisi saat ini.
Tapi eh ternyata eh ternyata...namanya orang nakal pasti ada dimana-mana..di institusi manapun pasti tetap aja ada. Kalau gak ada, mungkin dunia jadi kurang berwarna. Tapi yah..jangan dicoba deh, kalau dicoba nanti malah jadi bencana buat diri sendiri. Begini ceritanya, beberapa hari yang lalu ada teman yang kena tilang, kebetulan teman yang satu ii orang yang taat hukum. Bisa dikatakan dari 100 kebaikan, hanya ada 5 ke"nakal"an yang dia lakukan di jalan. Saat itu dia berboncengan dengan teman yang lain tanpa menggunakan helm, sedang ia sendiri pakai helm teropong. Tujuannya pun tidaklah jauh, dari rumah si teman tak berhelm ke halte saja, mungkin hanya 1 km melewati gang kecil. Dan karena mungkin itulah, dipikirnya semua akan baik-baik saja. Tapi apalah daya kemalangan menimpa. Sekali melanggar hukum, kena pula ia. Tepat di tikungan jalan besar menuju halte, ada polisi yang mencegatnya. Si teman yang dibonceng sempat kabur menyeberang ke halte dan ia dengan wajah tak bersalah dengan santainya mendatangi polisi yang sedari tadi siap menyambutnya.
Tanpa basi-basi pak polisi mengeluarkan kertas saktinya, diajaknya si teman ini menepi ke atas trotoar. Katanya, "Pakai helm cibuk aja dilarang kok, sidang tanggal 5 ya". Si teman dengan polosnya menyahut, "Oh, iya Pak". Tapi apa kemudian, "apa mau nitip di sini aja?". Sempat terperangah, tapi si teman langsung to the point, "kalo nitip berapa pak?". Dan terus terang pak polisi terang terus bilang, "Dua puluh ribu".
Ups...ternyata oh ternyata...
Di koran pun sedang gencar-gencarnya pemberitaan pemberantasan korupsi di kalangan kepolisian. Rasanya malu sendiri kalau mau suap menyuap. Bahkan yang saya baca di beberapa koran, dah ada beberapa orang yang tidur di "kamar khusus". Kalau sudah lihat faktanya seperti itu, sungguh salut saya denan kinerja polisi saat ini.
Tapi eh ternyata eh ternyata...namanya orang nakal pasti ada dimana-mana..di institusi manapun pasti tetap aja ada. Kalau gak ada, mungkin dunia jadi kurang berwarna. Tapi yah..jangan dicoba deh, kalau dicoba nanti malah jadi bencana buat diri sendiri. Begini ceritanya, beberapa hari yang lalu ada teman yang kena tilang, kebetulan teman yang satu ii orang yang taat hukum. Bisa dikatakan dari 100 kebaikan, hanya ada 5 ke"nakal"an yang dia lakukan di jalan. Saat itu dia berboncengan dengan teman yang lain tanpa menggunakan helm, sedang ia sendiri pakai helm teropong. Tujuannya pun tidaklah jauh, dari rumah si teman tak berhelm ke halte saja, mungkin hanya 1 km melewati gang kecil. Dan karena mungkin itulah, dipikirnya semua akan baik-baik saja. Tapi apalah daya kemalangan menimpa. Sekali melanggar hukum, kena pula ia. Tepat di tikungan jalan besar menuju halte, ada polisi yang mencegatnya. Si teman yang dibonceng sempat kabur menyeberang ke halte dan ia dengan wajah tak bersalah dengan santainya mendatangi polisi yang sedari tadi siap menyambutnya.
Tanpa basi-basi pak polisi mengeluarkan kertas saktinya, diajaknya si teman ini menepi ke atas trotoar. Katanya, "Pakai helm cibuk aja dilarang kok, sidang tanggal 5 ya". Si teman dengan polosnya menyahut, "Oh, iya Pak". Tapi apa kemudian, "apa mau nitip di sini aja?". Sempat terperangah, tapi si teman langsung to the point, "kalo nitip berapa pak?". Dan terus terang pak polisi terang terus bilang, "Dua puluh ribu".
Ups...ternyata oh ternyata...
Ketika Remo Meremokan Jalan
Sunggingan senyum mewarnai jalan raya pacar kembang, tak ayal juga membuat beberapa makhluk lain bersungut-sungut karena malam yang makin larut sedang ia terjebak dalam kemacetan yang tidak biasa. Entah ada acara apa hingga jalan yang lebarnya kurang lebih enam meter itu jadi sempit. Awalnya saya pikir ada kecelakaan atau mungkin hal lain. Tapi semakin dekat, saya jadi makin tahu apa yang membuat mobil-mobil yang biasanya agresif jadi lamban bergerak merangkak. Ternyata panggung yang lumayan megah menutupi hampir separuh jalan. Tentu saja hal ini mengundang banyak perhatian. Tapi nampaknya, para pemakai jalan ini juga jadi terhibur, tentu sangat jarang kita dapat menikmati kesenian istimewa ini tanpa harus pergi ke gedung, acara khusus yang mengundang kita, atau mungkin momen-momen spesial yang tak setiap kali ada.
Acara apapun itu, satu hal yang menggoda hati saya dan memaksa saya melirik adalah tari remonya. Di Jawa Timur, khususnya Surabaya, tari Remo menjadi sajian khas pada tiap acara, apalagi acara yang sifatnya spesial dan khusus. Entah itu di panggung atau pelataran, entah itu untuk menyambut kepala negara ataupun untuk acara tujuhbelasan. Bagi saya, tari Remo itu spesial, gerakannya yang menarik, rumit, dan lentur selalu membuat saya betah berlama-lama menikmatinya.
Dengan baju "kebesaran" yang khas, gelang kaki yang besar dan gemerincing, penari laki-laki itu melenggang gemulai tapi tetap gagah. Malam ini tari remo benar-benar meremokan jalan, meramaikan suasana yang biasanya sunyi. Merepotkan memang, tapi saya jadi terharu, tertegun dengan tarian yang menurut saya istimewa ini. Kalau saja tidak menghalangi jalan dan saya tidak terlanjur janji pulang cepat, mungkin saya akan berlama-lama di sini...
[27 April 2008]
Acara apapun itu, satu hal yang menggoda hati saya dan memaksa saya melirik adalah tari remonya. Di Jawa Timur, khususnya Surabaya, tari Remo menjadi sajian khas pada tiap acara, apalagi acara yang sifatnya spesial dan khusus. Entah itu di panggung atau pelataran, entah itu untuk menyambut kepala negara ataupun untuk acara tujuhbelasan. Bagi saya, tari Remo itu spesial, gerakannya yang menarik, rumit, dan lentur selalu membuat saya betah berlama-lama menikmatinya.
Dengan baju "kebesaran" yang khas, gelang kaki yang besar dan gemerincing, penari laki-laki itu melenggang gemulai tapi tetap gagah. Malam ini tari remo benar-benar meremokan jalan, meramaikan suasana yang biasanya sunyi. Merepotkan memang, tapi saya jadi terharu, tertegun dengan tarian yang menurut saya istimewa ini. Kalau saja tidak menghalangi jalan dan saya tidak terlanjur janji pulang cepat, mungkin saya akan berlama-lama di sini...
[27 April 2008]
Langgan:
Entri (Atom)
.jpg)